Toko buku telah bekerja sama dengan penerbit, jadi kami menjamin kualitas buku yang dijual

Negeri di Bawah Lipatan Jelaga

Kutapakkan langkah di dada kota ini,‎

tempat kuuntai cita dan dahaga ilmu,

‎berharap kelak pulang meretas jalan,‎

membawa pulang sebentuk kebanggaan.

‎‎Dahulu, kota ini adalah rindang yang ranum,‎

kini menjelma kabut kelabu yang tirani—menjelma lanskap asing nan semu,‎

seolah alam peri yang kehilangan sucinya.

‎‎Aku bergeming di bawah langit yang redup,‎

menatap sang surya yang padam ditelan jerebu.‎‎

Napasku tersengal dalam ruang asfiksia,‎

terpenjara di antara ratap dan rimba asap.

‎‎Dalam sesak, aku masih menaruh harap:‎semoga esok, fajar membasuh mimpi buruk ini.‎‎

Di sini aku berdiri, di bawah bentangan jelaga putih,

‎bertopeng kain menahan perih, ‎dengan pasang mata yang memerah terbakar racun.

‎‎Di manakah mereka, yang bertakhta atas nama kebaikan?

‎‎Di manakah mereka, yang mengumandangkan janji-janji agung?‎‎

Tidakkah mereka menyaksikan saudara-saudaraku di balik garis api,‎

bertaruh nyawa melawan amuk si jago merah?‎‎

Menghirup racun di setiap tarikan napas,‎

memohon agar paru-paru mereka kembali bernyawa.‎‎

Tidakkah mereka mendengar ribuan jiwa bertaruh di ujung batas?‎‎

Apakah mata mereka telah buta oleh silau kekuasaan?

‎‎Ataukah nurani itu memang telah lama pupus?‎‎

Asap membeku di sekeliling dada,‎

menyisakan jelaga dan perih yang tak kunjung usai.‎‎

Namun, di manakah mereka?

‎‎Mereka bersemayam di balik istana yang megah,‎

menikmati santapan di ruang berpendingin sejuk,‎lalu dengan tenang berbisik kepada dunia: “Semua baik-baik saja.”

‎‎Di manakah mereka saat jerit rakyat melintasi jeruji asap?

‎‎Saat amuk api kian meluas membakar masa depan?‎‎

Maka biarlah suara ini terus memekik,‎

menembus dinding-dinding tuli,‎

sebab kita tak kan berhenti bergema—sampai kemanusiaan kembali dipedulikan‎

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with