Kutapakkan langkah di dada kota ini,
tempat kuuntai cita dan dahaga ilmu,
berharap kelak pulang meretas jalan,
membawa pulang sebentuk kebanggaan.
Dahulu, kota ini adalah rindang yang ranum,
kini menjelma kabut kelabu yang tirani—menjelma lanskap asing nan semu,
seolah alam peri yang kehilangan sucinya.
Aku bergeming di bawah langit yang redup,
menatap sang surya yang padam ditelan jerebu.
Napasku tersengal dalam ruang asfiksia,
terpenjara di antara ratap dan rimba asap.
Dalam sesak, aku masih menaruh harap:semoga esok, fajar membasuh mimpi buruk ini.
Di sini aku berdiri, di bawah bentangan jelaga putih,
bertopeng kain menahan perih, dengan pasang mata yang memerah terbakar racun.
Di manakah mereka, yang bertakhta atas nama kebaikan?
Di manakah mereka, yang mengumandangkan janji-janji agung?
Tidakkah mereka menyaksikan saudara-saudaraku di balik garis api,
bertaruh nyawa melawan amuk si jago merah?
Menghirup racun di setiap tarikan napas,
memohon agar paru-paru mereka kembali bernyawa.
Tidakkah mereka mendengar ribuan jiwa bertaruh di ujung batas?
Apakah mata mereka telah buta oleh silau kekuasaan?
Ataukah nurani itu memang telah lama pupus?
Asap membeku di sekeliling dada,
menyisakan jelaga dan perih yang tak kunjung usai.
Namun, di manakah mereka?
Mereka bersemayam di balik istana yang megah,
menikmati santapan di ruang berpendingin sejuk,lalu dengan tenang berbisik kepada dunia: “Semua baik-baik saja.”
Di manakah mereka saat jerit rakyat melintasi jeruji asap?
Saat amuk api kian meluas membakar masa depan?
Maka biarlah suara ini terus memekik,
menembus dinding-dinding tuli,
sebab kita tak kan berhenti bergema—sampai kemanusiaan kembali dipedulikan

Tinggalkan Balasan